Pengolahan limbah pabrik tempe & tahu sesuai Permen LHK No. 11 Tahun 2025 dengan teknologi ramah lingkungan.
Pengolahan limbah pabrik tempe & tahu sesuai Permen LHK No. 11 Tahun 2025 dengan teknologi ramah lingkungan.Pengolahan limbah pabrik tempe dan tahu menjadi isu penting dalam industri pangan berbasis kedelai. Limbah cair yang dihasilkan memiliki kandungan organik tinggi yang dapat mencemari lingkungan jika tidak diolah dengan baik. Oleh karena itu, penerapan sistem IPAL domestik menjadi solusi utama untuk menjaga kualitas lingkungan.
Permen LHK No. 11 Tahun 2025 hadir sebagai regulasi terbaru yang mengatur baku mutu air limbah domestik serta standar teknologi pengolahannya. Dengan adanya regulasi ini, industri tempe dan tahu memiliki pedoman jelas dalam mengelola limbah cair agar sesuai dengan standar lingkungan.
.jpg)
Limbah cair dari pabrik tempe dan tahu umumnya mengandung BOD, COD, TSS, serta nutrien organik yang tinggi. Kandungan ini berasal dari proses pencucian kedelai, fermentasi, dan pembuangan sisa produksi. Jika dibuang langsung ke lingkungan, limbah ini dapat menimbulkan bau dan pencemaran air.
Dengan karakteristik tersebut, pengolahan limbah tempe dan tahu harus menggunakan teknologi yang mampu menurunkan kadar organik secara signifikan. Sistem biofilter anaerob-aerob menjadi salah satu pilihan yang efektif untuk mengurai kandungan organik dalam limbah cair.
Permen LHK No. 11 Tahun 2025 menetapkan baku mutu air limbah domestik yang harus dipenuhi oleh setiap industri. Regulasi ini juga mengatur standar teknologi pengolahan yang dapat digunakan untuk mencapai kualitas air sesuai ketentuan. Hal ini memberikan kepastian hukum bagi industri tempe dan tahu dalam mengelola limbah.
Dengan adanya regulasi ini, industri tempe dan tahu wajib memastikan bahwa hasil olahan limbah cair memenuhi parameter BOD, COD, dan TSS sesuai standar. Implementasi regulasi ini juga mendukung terciptanya lingkungan yang lebih sehat dan berkelanjutan.
Teknologi biofilter anaerob-aerob merupakan salah satu metode yang banyak digunakan dalam pengolahan limbah cair pabrik tempe dan tahu. Proses ini memanfaatkan mikroorganisme untuk menguraikan bahan organik dalam kondisi tanpa oksigen (anaerob) dan dengan oksigen (aerob).
Dengan kombinasi kedua proses tersebut, kandungan BOD dan COD dalam limbah dapat diturunkan secara signifikan. Teknologi ini juga relatif mudah dioperasikan dan memiliki biaya operasional yang lebih rendah dibandingkan metode kimia.
Kolam stabilisasi adalah metode pengolahan limbah cair yang memanfaatkan proses alami dengan bantuan sinar matahari dan mikroorganisme. Sistem ini cocok untuk pabrik tempe dan tahu dengan lahan yang cukup luas. Proses penguraian terjadi secara bertahap melalui kolam anaerob, fakultatif, dan maturasi.
Keunggulan kolam stabilisasi adalah biaya pembangunan dan operasional yang relatif rendah. Namun, metode ini membutuhkan lahan yang luas serta waktu pengolahan yang lebih lama dibandingkan teknologi biofilter.
Selain metode biologis, pengolahan limbah cair juga dapat dilakukan dengan sistem fisik-kimia. Proses ini melibatkan koagulasi, flokulasi, dan sedimentasi untuk mengurangi kandungan padatan tersuspensi dan bahan organik. Sistem ini efektif untuk menurunkan TSS dan sebagian COD.
Namun, penggunaan bahan kimia dalam proses ini harus dikontrol dengan baik agar tidak menimbulkan dampak negatif terhadap lingkungan. Sistem fisik-kimia biasanya digunakan sebagai pelengkap metode biologis untuk mencapai hasil pengolahan yang optimal.
Permen LHK No. 11 Tahun 2025 juga menekankan pentingnya pemantauan kualitas air limbah secara berkala. Industri tempe dan tahu wajib melakukan uji laboratorium terhadap parameter BOD, COD, TSS, dan pH. Hasil pemantauan harus dilaporkan kepada instansi terkait.
Dengan pemantauan yang rutin, industri dapat memastikan bahwa sistem pengolahan limbah berfungsi dengan baik. Hal ini juga membantu dalam mengidentifikasi masalah sejak dini dan melakukan perbaikan yang diperlukan.
.jpg)
IPAL domestik menjadi komponen penting dalam pengolahan limbah cair pabrik tempe dan tahu. Sistem ini dirancang untuk mengolah limbah dengan kapasitas sesuai kebutuhan industri. Dengan desain yang fleksibel, IPAL domestik dapat disesuaikan dengan kondisi lahan dan volume limbah.
Keberadaan IPAL domestik tidak hanya membantu memenuhi regulasi, tetapi juga meningkatkan citra perusahaan sebagai industri yang peduli terhadap lingkungan. Hal ini dapat memberikan nilai tambah bagi perusahaan di mata konsumen dan masyarakat.
Pengolahan limbah cair juga harus mempertimbangkan aspek efisiensi energi. Teknologi biofilter dan kolam stabilisasi relatif hemat energi dibandingkan sistem fisik-kimia. Dengan pemilihan teknologi yang tepat, industri dapat mengurangi biaya operasional sekaligus mendukung keberlanjutan.
Efisiensi energi juga dapat dicapai dengan memanfaatkan energi terbarukan, seperti panel surya untuk mendukung operasional IPAL. Langkah ini sejalan dengan upaya pemerintah dalam mendorong penggunaan energi ramah lingkungan.
Pengolahan limbah cair pabrik tempe dan tahu yang sesuai standar dapat mengurangi pencemaran air dan bau. Hal ini berdampak positif terhadap kesehatan masyarakat dan kelestarian lingkungan. Dengan sistem pengolahan yang baik, kualitas air di sekitar pabrik dapat terjaga.
Selain itu, pengolahan limbah yang efektif juga mendukung upaya pelestarian ekosistem perairan. Mikroorganisme dan biota air dapat hidup dengan lebih baik jika kualitas air terjaga sesuai baku mutu.
Selain manfaat lingkungan, pengolahan limbah cair juga memberikan manfaat ekonomi bagi industri. Dengan sistem pengolahan yang baik, perusahaan dapat menghindari sanksi hukum dan menjaga kelangsungan operasional. Hal ini juga meningkatkan kepercayaan konsumen terhadap produk yang dihasilkan.
Pengolahan limbah yang efisien juga dapat membuka peluang pemanfaatan kembali air olahan untuk kebutuhan non-konsumsi, seperti penyiraman tanaman atau proses produksi tertentu. Dengan demikian, perusahaan dapat menghemat biaya operasional.
Meskipun penting, implementasi pengolahan limbah cair masih menghadapi berbagai tantangan. Salah satunya adalah biaya investasi awal yang cukup tinggi untuk pembangunan IPAL. Selain itu, keterbatasan lahan juga menjadi kendala bagi pabrik dengan kapasitas besar.
Namun, dengan dukungan regulasi dan teknologi yang semakin berkembang, tantangan tersebut dapat diatasi. Pemerintah juga menyediakan berbagai program bantuan dan insentif untuk mendorong industri dalam mengelola limbah cair.
Beberapa pabrik tempe dan tahu di Indonesia telah berhasil mengimplementasikan sistem pengolahan limbah cair sesuai Permen LHK No. 11 Tahun 2025. Hasilnya, kualitas air limbah yang dihasilkan memenuhi baku mutu dan tidak mencemari lingkungan.
Studi kasus ini menunjukkan bahwa dengan komitmen dan teknologi yang tepat, industri tempe dan tahu dapat beroperasi secara berkelanjutan. Hal ini juga memberikan contoh positif bagi industri lain dalam mengelola limbah cair.
.jpg)
Pengolahan limbah pabrik tempe dan tahu merupakan langkah penting dalam menjaga kualitas lingkungan. Dengan regulasi Permen LHK No. 11 Tahun 2025, industri memiliki pedoman jelas dalam mengelola limbah cair. Implementasi teknologi biofilter, kolam stabilisasi, dan sistem fisik-kimia menjadi solusi efektif.
Dengan komitmen terhadap regulasi dan keberlanjutan, industri tempe dan tahu dapat memberikan manfaat lingkungan sekaligus ekonomi. Hefram.id berkomitmen menyediakan solusi pengolahan limbah yang sesuai standar dan mendukung terciptanya lingkungan yang lebih sehat.
Info Konsultasi Project Pengolahan Air 0877-7795-07810
